Tampilkan postingan dengan label Antara Ekonomi Budak dan Ekonomi Orang Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antara Ekonomi Budak dan Ekonomi Orang Merdeka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2008

Komentar-komentar atas AEB&EOM

Buku ini memberikan jawaban segar dan bernas tentang solusi atas kapitalisme yang sesat selama ini. Buku ini memberikan pengetahuan yang cerdas dan unik tentang bagaimana sistem ekonomi Islam ditegakkan.

Eko Prasetyo (Resist Book)

Penulis “Orang Miskin Dilarang Sekolah”



Ketika membaca halaman-halaman awal buku ini, satu hal yang sangat terasa adalah “gaya” penulisnya yang “menggugah”. Dengan kalimat-kalimat “provokatif” ia menggerakkan hasrat pembacanya untuk membolak-balik halaman-halaman selanjutnya. Pesannya tentang peradaban dan ekonomi Islam cukup meyakinkan orang untuk bisa menerima bahwa ini merupakan peradaban dan sistem alternatif yang bisa mengeliminir berbagai dampak dari sistem kapitalis.

Prof. Edy Suandi Hamid

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta

Antara Ekonomi Budak dan Ekonomi Orang Merdeka (AEB&EOM)




(Antara Ekonomi Kapitalis dan Ekonomi Syariah)

Pengarang : Husain Matla


…. Ya, sangat mahal! Udara, hidung, telinga, istri, anak…, apakah itu cukup kita nilai dengan semilyar, setrilyun, sejuta trilyun? Apa ada orang yang mau kehilangan semua itu asal diganti dengan harta yang sangat melimpah?

Kalau begitu, bukankah semua orang yang hidup di dunia ini sebenarnya “kaya raya”? Atau setidaknya, bukankah selisih “kekayaan” antara si kaya dan si miskin itu hanya sedikit? Kenyataannya: segala sesuatu yang dimiliki tiap individu itu tidak cukup dinilai dengan seribu trilyun, sedangkan perbedaan harta antar mereka cuma pada kisaran milyar…, atau malah sekedar juta!

Tulisan ini tidak hendak mengajak untuk “tidak usah jadi orang kaya”, namun untuk merenungi “Mengapa demi mengejar harta yang cuma milyaran atau jutaan itu, banyak orang yang rela menggadaikan apa saja yang dimiliki, yang sebenarnya sangat berharga, yang tidak cukup dinilai dengan uang?”

Saya jadi berpikir: kalau begitu orang-orang semacam Imam Malik, yang “dipesantrenkan” sejak kecil; atau Imam Syafi’i, yang dididik oleh ibunya dengan “gaya pesantren”; juga Imam Ahmad bin Hambal ataupun Imam Bukhari yang teratur pendidikannya sejak kanak-kanak; hingga mereka semua hafal al-Qur’an di bawah usia lima belas tahun, dan berikutnya menjadi ulama yang disegani…, bukankah justru merasakan kenikmatan yang “milyaran”?

(Cuplikan Pendahuluan)
Ket.:
jumlah hal : 202+i
ukuran : 20,5 x 13 cm
harga : Rp. 35.000,-

Demi Kesehatan : Banyak Makanan?


(satu renungan dalam Antara Ekonomi Budak dan Ekonomi Orang Merdeka)

Saya masih ingat waktu saya sedang makan di suatu resepsi pernikahan ketika saya masih mahasiswa dulu. Saat itu saya makan benar-benar banyak. Hampir semua jenis lauk yang disajikan saya ambil. Apalagi ketika makan es krim. Whhh.., saya ambil beberapa gelas. Pokoknya, benar-benar saya puaskan. “Biar nggak rugi. Nyumbang kok!” Begitu pikir saya. Dalam benak, saya banding-bandingkan antara sumbangan saya dan “harga” makanan yang saya makan.
Tapi setelah pulang perut saya jadi mulas dan mencret-mencret. Baru setelah beberapa kali buang air besar, saya merasa perut saya agak mendingan.

Lama setelah peristiwa itu saya merenung…, mengapa saat itu yang saya pikirkan cuma makanan dan uang? Mengapa saya sama sekali tidak berpikir tentang tubuh saya? Bukankah makan itu untuk tubuh? Lantas mengapa demi makan malah tubuh saya korbankan? Mengapa saya tidak berpikir kesehatan saya, tapi hanya berpikir “tidak rugi”, berpikir uang? Bukankah uang itu untuk kesehatan? Mengapa demi uang, kesehatan malah saya korbankan? Mengapa saya hanya berpikir “barang”, bukannya berpikir “saya”?

Tapi kalau saya pikir lebih jauh, rasanya kok yang rakus dan bodoh bukan cuma saya. Berapa banyak teman saya yang juga begitu?

Bahkan berikutnya saya menemukan bahwa orang macam saya itu makin bejibun, tidak cukup teman-teman saya. Belum tentu mereka semuanya berpikir persis saya dulu, tapi –minimal-- benak mereka terkondisikan menjadi seperti benak saya, baik sadar atau tidak sadar, baik berpikir langsung maupun menjadi bagian dari sistem pemikiran. Demikian banyak jumlah mereka. Tak hanya ribuan, jutaan, atau puluhan juta. Tapi milyaran…, hampir seluruh penduduk bumi! Ini karena sistem ekonomi yang kita pakai selama ini, Kapitalisme (kenyataannya harus diakui: de jure atau de facto) ternyata telah mengkondisikan tiap bayi yang lahir di planet ini dengan orientasi “jumlah barang”, bukan orientasi “kesejahteraan manusia”.

Masyarakat : Aquarium Butuh oksigen?


(satu renungan dalam Antara Ekonomi Budak dan Ekonomi Orang Merdeka)

Yang dipikirkan para pengambil kebijakan selama ini, “Pertumbuhan sekarang naik berapa persen ya?” Sementara rakyat berpikir, “Lantas, kami dapat apa?” Pemerintah berpikir pertumbuhan. Sedangkan rakyat butuh pemerataan. Pemerintah memandang masyarakat seperti akuarium, yang jika ditambah oksigennya, ikan makin sehat. Masalahnya…, apakah barang-barang ekonomi itu seperti oksigen, yang bisa menyebar sendiri? Juga, apakah rakyat itu seperti ikan, yang punya kemampuan hampir sama untuk menjangkau oksigen itu? Apakah jika ekonomi tumbuh, berarti merata?